Wednesday, August 27, 2025

Asal Usul Neraka: Kapan Allah Menciptakannya Menurut Alkitab dan Teologi

Pertanyaan tentang neraka selalu menggugah hati manusia. Banyak orang berpikir neraka hanya sekadar simbol penderitaan, ada yang melihatnya sebagai ciptaan setan, dan ada pula yang menganggapnya diciptakan belakangan setelah manusia berdosa. Tetapi apa kata Alkitab?

Yesus sendiri menegaskan bahwa neraka (Yunani: Gehenna) bukanlah mitos, melainkan realitas. Dalam Matius 25:41, Tuhan berkata bahwa “api yang kekal” telah disediakan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya. Artinya, neraka bukan pertama-tama untuk manusia, melainkan sebagai tempat penghukuman kekal bagi pemberontakan malaikat. Namun karena manusia juga memilih memberontak, mereka pun ikut masuk dalam hukuman yang sama.

Dari pernyataan ini, muncul pertanyaan mendalam: kapan sesungguhnya neraka diciptakan? Apakah sejak awal penciptaan, bersamaan dengan dunia dan surga? Ataukah Allah menentukannya setelah kejatuhan Iblis? Bagaimana pandangan para penafsir Alkitab dan teologi gereja tentang waktu penciptaannya?

Tulisan ini akan menelusuri dasar-dasar Kitab Suci, menggali pandangan teologi klasik, serta menyatukan pemahaman bahwa neraka bukanlah “kecelakaan sejarah,” melainkan bagian dari rencana kekal Allah yang adil dan kudus. Dengan memahami hal ini, kita bukan hanya mengetahui asal-usul neraka, tetapi juga semakin menyadari betapa besar kasih Allah yang menyelamatkan kita dari tempat itu melalui pengorbanan Kristus.

Bagus sekali pertanyaannya — langsung ke inti yang sering mengusik iman dan akal: kapan neraka diciptakan? Jawabannya tidak berupa tanggal historis, tetapi Alkitab memberi petunjuk yang memungkinkan kita menyusun jawaban teologis yang mendalam dan berhati-hati. Berikut penjelasan runtut, detail, dan seimbang secara biblika.


1) Memahami istilah-istilah Alkitab (penting untuk kronologi)

  • Sheol / Hades — istilah Perjanjian Lama/Baru untuk “alam orang mati”; lebih berkaitan dengan keberadaan arwah, bukan hukuman akhir kekal.

  • Gehenna (Ge-Hinnom) — istilah yang dipakai Yesus; berasal dari Lembah Hinnom, tempat api membakar sampah dan simbol penghukuman; sering dipakai untuk menunjuk hukuman akhir. (Lihat mis. Matius/Markus/Lukas).

  • Tartarus — istilah Yunani (dipakai 2 Ptr. 2:4) untuk menggambarkan tempat pengikatan malaikat yang jatuh.

  • Lake of Fire / Danau Api — gambaran akhir dalam Wahyu (Why. 20) untuk hukuman kekal pada Iblis, maut, dan semua yang ditolak dalam penghakiman terakhir.

Memisahkan istilah-istilah ini penting: Alkitab memakai beberapa gambaran untuk aspek berbeda dari “realitas hukuman” — keberadaan sementara (Hades), mahkota hukuman akhir (Gehenna / Lake of Fire), dan penahanan malaikat (Tartarus).


2) Bukti Alkitab utama tentang kapan neraka “dipersiapkan” atau “diciptakan”

  • Matius 25:41 — Yesus berkata: “Enyahlah... ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Ayat ini menegaskan: neraka dipersiapkan untuk Iblis dan malaikatnya — kata “telah sedia” membuka ruang tafsiran kronologis (apakah sebelum atau sesudah pemberontakan).

  • 2 Petrus 2:4 — “Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa, melainkan melemparkan mereka ke neraka (tartarōsas)…” — menempatkan hukuman sebagai reaksi terhadap dosa malaikat.

  • Yudas 1:6 — menyatakan malaikat-malaikat yang memberontak “disimpan” dalam belenggu untuk penghakiman.

  • Wahyu 20:10, 14–15 — memperlihatkan puncak penghakiman: Iblis dan orang-orang yang tidak tertulis dalam Kitab Hidup dilemparkan ke danau api pada akhir zaman.

Dari kumpulan teks ini kita tarik dua pengamatan: (a) Allah telah menyiapkan suatu tempat hukuman bagi pemberontak; (b) pembuangan ke tempat itu terjadi setelah pemberontakan — dan kepenuhan hukuman terjadi pada penghakiman terakhir.


3) Dua cara utama menafsirkan “kapan” neraka diciptakan (dan alasan keduanya)

A. Neraka “disiapkan” sebelum atau segera setelah pemberontakan malaikat (dipersiapkan oleh Allah)

Argumen dan teks pendukung

  • Kalimat Yesus di Matius 25:41 (“yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”) dapat dibaca bahwa Allah, dalam pengetahuan dan kehendak-Nya, sudah menyediakan tempat hukuman bagi mereka yang memilih memberontak.

  • Yudas dan 2 Petrus berbicara tentang penahanan atau pembuangan malaikat sebagai suatu realitas—yang menunjukkan bahwa Allah sudah menetapkan suatu respon hukuman.

Konsekuensi teologis

  • Menunjukkan sifat Allah sebagai hakim yang adil: dalam kebijaksanaan-Nya ada tempat penghakiman yang “disediakan” terhadap pemberontakan.

  • Menekankan foreknowledge (pengetahuan sebelumnya) Allah: Dia mengetahui kemungkinan pemberontakan dan telah menetapkan keadilan-Nya.

B. Neraka sebagai konsekuensi yang dibuat nyata setelah pemberontakan (hasil hukuman, bukan ‘entitas’ yang diciptakan lebih dulu)

Argumen dan teks pendukung

  • 2 Petrus 2:4 berbunyi seakan-akan Allah melemparkan malaikat ke neraka setelah mereka berdosa — ini menekankan urutan: dosa → hukuman.

  • Wahyu 20 menempatkan puncak hukuman pada akhir sejarah (penghakiman terakhir), sehingga “pemakaian” neraka bersifat eskhatologis (berkaitan akhir zaman).

Konsekuensi teologis

  • Menekankan bahwa neraka bukan “ciptaan jahat” yang berdiri sendiri melainkan konsekuensi dari pilihan makhluk berkehendak bebas.

  • Menegaskan bahwa Allah tidak “menciptakan penderitaan” sebagai tujuan utama tetapi menegakkan keadilan terhadap pemberontakan.


4) Sintesis teologis (cara tradisional menengahi kedua pandangan)

Secara hati-hati banyak teolog menyimpulkan hal berikut:

  • Allah, dalam penciptaan-Nya, menciptakan segala sesuatu baik (kecuali dosa adalah kekurangan/privasi kebaikan). Ia juga, dalam pengetahuan dan kehendak kekal-Nya, menetapkan standar keadilan. Oleh karena itu, secara teologis dapat dikatakan bahwa tempat atau “kesiapan” untuk penghakiman (apa yang kita sebut neraka) adalah sesuatu yang sudah berada dalam rencana Allah—tidak karena Dia adalah pembuat kejahatan, melainkan karena Dia adalah hakim yang adil.

  • Namun pengisian neraka — siapa yang masuk, kapan — adalah hasil konkret dari pemberontakan makhluk berkehendak bebas (angels/iblis terlebih dahulu, manusia nanti bila menolak keselamatan).

  • Jadi jawaban ringkas: Neraka “disiapkan” oleh Allah (secara de jure dalam rancangan/ketetapan-Nya), tetapi pengaktualan hukuman terjadi setelah pemberontakan malaikat dan akan dimeteraikan pada penghakiman terakhir.


5) Hubungan kronologis relatif (rekonstruksi aman yang dapat dipertanggungjawabkan)

  1. Penciptaan malaikat — malaikat sudah ada ketika Allah menciptakan dunia (Ayub 38:7 menyinggung “bintang-bintang fajar” yang bersorak).

  2. Pemberontakan malaikat — beberapa malaikat memberontak di suatu titik sebelum/sekitar awal sejarah ciptaan; Iblis sudah hadir sebagai penggoda di Eden (Kej. 3).

  3. Allah menetapkan tempat hukuman — sesuai nats Yesus, neraka telah “disediakan” untuk Iblis dan malaikat yang memberontak; ini menyatakan ketetapan ilahi terhadap keadilan.

  4. Pengisian dan penahanan — 2 Ptr. & Yud. menyatakan ada penahanan malaikat-malaikat jahat dalam kegelapan sampai penghakiman.

  5. Kepenuhan akhir — pada akhir zaman (Wahyu 20) neraka/danau api diisi secara definitif bagi Iblis, maut, dan orang-orang yang ditolak.


6) Aspek filosofis-teologis penting (menghindari salah paham)

  • “Apakah Allah menciptakan neraka sebagai ‘tempat jahat’?” — tradisi teologi klasik menolak klaim bahwa Allah menciptakan kejahatan. Allah menciptakan segala sesuatu baik; kejahatan adalah kekurangan atau penyimpangan dari kebaikan yang semestinya. Neraka bukan “ciptaan jahat yang berdiri sendiri”, melainkan realitas hukuman yang muncul dari kehendak makhluk yang menolak kebaikan.

  • Keadilan vs belas kasihan Allah — keberadaan neraka menegaskan keadilan Allah; keberadaan jalan keselamatan (Yesus Kristus) menegaskan belas kasihan-Nya. Kedua sifat ini bersatu dalam karya penebusan.


7) Bukti tambahan dari tradisi Yahudi-Kristen awal

  • Literatur Yahudi (mis. gambaran Gehenna) dan tulisan-tulisan antar-testament (1 Enoch, dll.) sudah mengenal gagasan tentang tempat hukuman dan penahanan malaikat; 2 Petrus menggunakan istilah Yunani Tartarus yang membawa konotasi penahanan malaikat. Ini menunjukkan konsepsi hukuman bagi pemberontak sudah ada sebelum kanon Perjanjian Baru selesai.


8) Kesimpulan praktis (apa yang harus kita pegang)

  1. Tidak mungkin menentukan ‘tanggal’ historis; jawaban teologis yang dapat dipertanggungjawabkan: neraka adalah bagian dari ketetapan Allah terhadap penghakiman bagi pemberontakan—disiapkan dalam rencana ilahi, diaktualkan setelah pemberontakan.

  2. Neraka menegaskan keseriusan dosa dan kebebasan makhluk: pilihan berdampak abadi.

  3. Inilah urgensi Injil: karena neraka bukan sekadar simbol, tetapi realitas penghakiman akhir, pemberitaan keselamatan adalah genting.

  4. Allah adil dan berbelas kasih: Dia menahan, menghakimi, tetapi juga menyediakan jalan penebusan melalui Kristus—yang membedakan nasib malaikat (tidak ditebus) dan manusia (diberi penebusan).

No comments:

Asal Usul Neraka: Kapan Allah Menciptakannya Menurut Alkitab dan Teologi

Pertanyaan tentang neraka selalu menggugah hati manusia. Banyak orang berpikir neraka hanya sekadar simbol penderitaan, ada yang melihatnya...