Translate This Blog

Saturday, June 27, 2020

Injil Matius dalam Bahasa Melayu


Albert Cornelius Ruyl, seorang pedagang junior Perusahaan Multinasional Hindia Belanda (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, VOC), berlayar ke Nusantara pada 1600, enam tahun setelah kapal Belanda pertama mendarat di Nusantara. Dia belajar bahas melayu di Sumatera. Di luar kesibukannya berdagang, dia menerbitkan buku tata bahasa Melayu, A Mirror of the Malay Language (Spigel van de Maleise Tale) pada tahun 1611 dan menerjemahkan ringkasan dari ajaran Gereja Reformed.

Pada tahun 1612 Ruyl menyelesaikan penerjemahan Injil Matius dalam dua bahasa, Belanda dan Melayu –satu tahun setelah terbit Alkitab bahasa Inggris The King James Version. Sayangnya, baru 17 tahun kemudian tahun 1629 karyanya diterbitkan oleh Jan Jacobiz Palenstein di Enkhuizhen (salah satu pelabuhan utama VOC di Frisia Barat, Belanda). Terbitan ini merupakan terbitan dwibahasa (diglot), jadi pada satu sisi dicetak teks bahasa Melayu dan didampinggi oleh teks paralelnya dalam bahasa Belanda pada sisi yang lain.


Penting untuk dipahami bahwa terjemahan Ruyl dilakukan di konteks hubungan VOC, Pemerintah Negara Bagian, dan Gereja Reformed Belanda, yang semuanya mencerminkan cita-cita teokratis Calvinistik Belanda abad ketujuh belas. Seperti yang diungkapkan dalam Pasal 26 Pengakuan Iman Belanda, Negara adalah untuk melindungi pelayanan suci Gereja, dan untuk menekan dan menghancurkan semua penyembahan berhala dan agama palsu.

Karenanya kontrak VOC dengan Pemerintah Belanda termasuk melindungi dan mempertahankan kepercayaan publik, termasuk keyakinan wanita lokal yang dinikahi pria VOC, serta anak-anak mereka. Perkawinan ini diakui oleh Gereja Reformasi Belanda dan oleh karena itu keluarga-keluarga ini akan membutuhkan pengajaran dalam iman menggunakan lingua francas saat itu, Melayu dan Portugis. Dengan kata lain, fungsi (skopos) terjemahan Ruyl adalah untuk digunakan dalam pelayanan gereja dan di sekolah-sekolah yang disponsori VOC untuk komunitas multi-etnis Reformed di Hindia Timur, termasuk penduduk lokal yang dipekerjakan oleh VOC.

Ternyata terjemahan Injil Matius yang pertama dalam bahasa Melayu ini merupakan tonggak sejarah yang penting, karena inilah pertama kalinya suatu bagian Alkitab diterjemahkan ke dalam satu bahasa yang bukan bahasa Eropa dalam rangka pekabaran Injil. Lembaga Alkitab Inggris (The British and Foreign Bible Society) dan Perserikatan Lembaga-Lembaga Alkitab sedunia (United Bible Societies) mencatat peristiwa bersejarah ini sebagai berikut:

"Injil Matius dalam bahasa Melayu yang dicetak pada tahun 1629 merupakan peristiwa yang penting, sebab inilah terjemahan dan terbitan bagian Alkitab yang pertama dalam bahasa non-Eropa untuk kepentingan penginjilan."

Kitab Injil Matius cetak karya Ruyl yang langka ini sekarang disimpan di Wurttembergische Landesbibliothek di Stuttgart, Jerman, dan di British Museum di London, Inggris. Pada bagian akhir dari terbitan ini dimuat juga Sepuluh Perintah Allah, Nyanyian Zakharia, Nyanyian Malaikat, Nyanyian Maria, Nyanyian Simeon, Pengakuan Iman Rasuli, beberapa petikan Mazmur, Doa Bapa Kami, dan beberapa doa lain.


Daftar Pustaka :

Like For Free Alerts