Dalam beberapa tahun terakhir, istilah Hyper Grace semakin sering muncul dalam percakapan di kalangan gereja.
Bagi sebagian orang, ajaran ini terdengar menyegarkan karena menekankan besarnya kasih karunia Allah dan pengampunan yang sempurna di dalam Kristus Yesus—sebuah kebenaran Injil yang patut disyukuri.
Namun bagi sebagian teolog dan pelayan Tuhan, ajaran ini juga menimbulkan keprihatinan. Bukan karena kasih karunia itu keliru atau berlebihan, melainkan karena penekanannya berpotensi menjadi tidak seimbang, sehingga dapat mengaburkan aspek penting lain dari Injil, seperti pertobatan, kekudusan hidup, dan ketaatan sebagai buah iman.
Oleh sebab itu, gereja dipanggil bukan untuk menolak kasih karunia, melainkan untuk memahami dan memberitakannya secara utuh, sebagaimana diajarkan oleh seluruh kesaksian Alkitab.
Buku Michael Brown dan Latar Belakang Keprihatinannya
Salah satu buku yang cukup dikenal dalam menanggapi isu ini adalah:
📘 Hyper-Grace: Exposing the Dangers of the Modern Grace Message
Penulis: Dr. Michael L. Brown
Penerbit: Charisma Media (USA), 2014
Dr. Michael L. Brown adalah seorang teolog Injili dari Amerika Serikat yang dikenal luas melalui karya akademik dan pelayanan pengajaran publiknya. Dalam buku ini, ia tidak sedang menyerang kasih karunia—justru sebaliknya. Brown dengan tegas menyatakan bahwa kasih karunia adalah inti Injil dan satu-satunya dasar keselamatan manusia.
Namun, keprihatinannya muncul ketika ia mengamati pola pengajaran tertentu yang, menurut penilaiannya, menekankan kasih karunia secara ekstrem dan terlepas dari panggilan Alkitab untuk pertobatan dan hidup kudus. Karena itu, dalam bukunya Brown membandingkan ajaran Hyper Grace dengan kesaksian Alkitab secara menyeluruh, khususnya dalam hal:
-
dosa dan keseriusannya
-
pengampunan dan relasi dengan Allah
-
pertobatan dan perubahan hidup
-
pengudusan dan kehidupan praktis orang percaya
Brown menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menuduh tokoh tertentu sebagai sesat, melainkan menyampaikan keprihatinan teologis dan pastoral. Ia memperingatkan bahwa bila kasih karunia dipisahkan dari panggilan untuk hidup kudus, maka gereja berisiko meninabobokan umat—merasa aman secara rohani, namun kehilangan kepekaan terhadap dosa dan ketaatan.
Di titik inilah penting dicatat: saat buku ini ditulis, Brown belum pernah berdialog langsung dengan Joseph Prince, salah satu pengajar yang sering diasosiasikan (baik benar maupun keliru) dengan label Hyper Grace.
Mengapa Michael Brown Perlu Bertemu Joseph Prince?
Justru karena keprihatinan itulah, pertemuan antara Michael Brown dan Joseph Prince menjadi sangat penting.
Brown menyadari bahwa kritik teologis yang sehat tidak boleh berhenti pada tulisan atau asumsi dari kejauhan. Demi kejujuran intelektual dan integritas rohani, ia merasa perlu mendengar langsung dari orang yang ajarannya sering dikaitkan dengan Hyper Grace, menjernihkan kesalahpahaman, dan membedakan antara apa yang benar-benar diajarkan dengan apa yang sering diasumsikan orang.
Dengan semangat itulah, pertemuan langsung akhirnya terjadi.
Pertemuan Langsung Michael Brown & Joseph Prince
📍 Tanggal: 20 Januari 2017
📍 Tempat: Singapura
📍 Durasi: ± 2,5 jam diskusi pribadi
Pertemuan ini bukan debat publik, bukan juga konfrontasi panas. Ini adalah dialog dua saudara seiman yang sama-sama mengasihi Firman Tuhan dan ingin setia kepada Injil. Mereka berdiskusi secara mendalam, termasuk membahas teks Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani, serta menyampaikan persamaan dan perbedaan teologis dengan suasana hormat.
Brown sendiri kemudian menulis bahwa ia menemukan lebih banyak kesepakatan daripada yang ia perkirakan, meskipun perbedaan teologis tetap nyata dan tidak disangkal.
Yang menarik, Brown secara terbuka mengoreksi persepsi umum dengan menegaskan bahwa:
-
Joseph Prince percaya pada kekudusan
-
Joseph Prince menolak hidup dalam dosa sebagai gaya hidup
-
Joseph Prince tidak mengajarkan “bebas berdosa”
👉 Artinya, Prince tidak termasuk tipe ajaran Hyper Grace yang berpola:
“percaya → bebas hidup dalam dosa → tetap aman.”
Brown mengakui bahwa banyak kritik terhadap Prince sering kali berasal dari kutipan tidak utuh atau generalisasi berlebihan. Namun, ia tetap menilai bahwa beberapa penekanan Prince tentang kasih karunia perlu dilengkapi secara eksplisit dengan pengajaran tentang pertobatan dan kekudusan, agar tidak disalahpahami oleh jemaat.
Inti Perbedaan Teologis
1. Pengakuan Dosa
Joseph Prince menekankan bahwa semua dosa—masa lalu, kini, dan depan—telah diampuni di salib. Karena itu, pengakuan dosa harian tidak ditekankan sebagai keharusan.
Michael Brown setuju bahwa pengampunan Kristus sempurna, tetapi menegaskan bahwa 1 Yohanes 1:7–9 tetap relevan untuk relasi dan pemulihan.
Pengakuan dosa bukan mencari pengampunan ulang, tetapi menjaga keintiman dengan Allah.
2. Pertobatan
Prince: pertobatan terutama adalah perubahan pikiran tentang Kristus.
Brown: pertobatan Alkitabiah mencakup perubahan pikiran dan perubahan arah hidup.
Injil tanpa panggilan hidup berubah adalah Injil yang tidak utuh.
3. Hukum Taurat
Prince: Taurat dipandang hampir tidak relevan bagi orang percaya Perjanjian Baru.
Brown: Taurat tidak menyelamatkan, tetapi tetap mencerminkan standar kekudusan Allah.
Taurat adalah cermin, bukan tangga keselamatan.
4. Kekudusan dan Ketaatan
Prince: kekudusan adalah buah otomatis dari menerima kasih karunia.
- Brown: kekudusan memang buah anugerah, tetapi juga melibatkan ketaatan aktif(Filipi 2:12–13).
Kekudusan dan Ketaatan, mutlak dalam kehidupan umat Kristen.
Titik Kesepakatan yang Penting
Ini sering luput diberitakan, padahal sangat penting:
Perbedaan mereka bukan soal Injil, melainkan bagaimana Injil itu dihidupi setiap hari.
Penegasan
“Kasih karunia tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita nyaman dalam dosa, melainkan memberi kuasa untuk menang atas dosa.”
Penutup
Sebab anugerah yang menyelamatkan, pasti juga mengubahkan.
No comments:
Post a Comment